Test
Sebenernya gue kasihan.
Masterplan di benak tidak pernah seperti itu.
Buatku garis batasnya jelas. Tidak pernah bingung juga untuk tentukan arah.
Adalah bagus untuk bersemangat atau berambisi untuk suatu hal, tapi kupikir itu tidak berarti semangat atau ambisi itu malah mendorong diri ke hal yang buruk karena terbutakan.
Setulusnya, I am so sorry. Semogalah kau tidak terbutakan lama.
#roppan #bali (uploaded with Streamzoo.com)
#sanggahcucuk #bali (uploaded with Streamzoo.com)
#leftover #martabak #delicious #imade #cook (uploaded with Streamzoo.com)
Saya baru saja melakukannya, dan teringat, ketika kecil dulu, masih lebih tinggi sedikit dari ranjang pasien saat jenguk salah satu sanak yang sakit, tiba-tiba seorang dokter masuk dan bertanya kepada si sakit: udah kentut?
Sebagai orang yang dengar pertanyaan itu dari dokter, meskipun bukan saya yang ditanyakan, saya jadi heran, ada apa dengan kentut? Khususnya benda beraroma tapi tak berwujud itu ternyata diharapkan oleh si dokter. Bukankah benda itu bau? Kenapa penting si dokter ingin tahu? Pertanda apa memangnya dari kentut yang angin diketahui? Aromanya? Bunyinya?
Kentut dalam kehidupan sehari-hari kadang mengundang kontroversi karena orang-orang tidak menyukai baunya, disisi lain kentut kadang sangat efektif sebagai “icebreaker” jika bunyinya lucu, banyaklah aneka momen yang tercipta karena suara atau bunyi kentut.
Tapi tetap saja, dari aneka kontradiksi tentang kentut, belum menjawab keheranan saya kenapa si dokter dulu menanyakan soal kentut kepada si pasien pasca operasi. Selepas melakukannya tadi saya segera cari tahu.
Ternyata, kentut menjadi penting bagi orang yang baru jalani pembedahan karena jika bisa kentut itu artinya usus besar dan usus kecil tubuh si pasien sudah berfungsi dengan baik, menghasilkan gas dari proses pencernaan makanan. Dalam suatu pembedahan, usus besar maupun kecil rupanya juga akan ikut terbius dan kalau kentut artinya mereka sudah bangun.
Jadi dalam hidup sehari-hari, boleh dong berbahagia juga kalau bisa kentut? Tandanya dua benda yang ada di tubuh kita itu berfungsi baik, rayakan saja dengan melakukannya, tapi tentu tidak serta merta dilakukan serampangan, karena tidak ada jaminan baunya sedap. Sudah kentutkah Anda hari ini? (em29331072011).
Iya, memang animan, tidak salah tulis. Gabungan antara “ANImal” dan “huMAN”. Terpikir ketika saya mendengar kembali suara Ibu saya yang berkata: “kalau makan baiknya duduk, jangan berdiri seperti hewan”. Kebetulan, pagi ini saya sarapan sambil berdiri, seperti hewan kan jadinya?
Animal vs Human, dalam kehidupan sehari-hari, seberapa sering kita memikirkan hal ini? Pernahkah terpikir misalnya hooo beginilah manusia seharusnya, atau hooo itu adalah cara yang dilakukan hewan, atau sudah demikian otomatisnya sehingga bahkan tidak peduli lagi sisi mana dari diri kita yang bertindak atau berbuat? Atau keduanya, sisi hewan dan manusia muncul bergantian dan menjadi pantas karena tubuh kita tidak berubah-ubah sesuai tindakan kita?
Tahun 80-an dulu, ada sebuah film seri berjudul “Manimal”, si detektif, tokoh utama dalam film seri itu, bisa berubah jadi hewan untuk mensukseskan penyidikannya. Kira-kira, kalau secara otomatis tubuh kita bisa berubah sesuai perangai atau tindakan dari waktu ke waktu menjadi hewan, seru kali ya, karena disaat kita berpikir bahwa kita berperangai atau bertindak cukup manusiawi, tubuh kita dengan tidak kompak malah berubah seperti kucing, babi, anjing, ular dan hewan-hewan lainnya. Pemandangannya tentu jadi ajaib, dimana-mana akan terlihat seperti kebun binatang, dan dengan mudah kita bisa segera tahu, bahwa kita sedang berperangai seperti hewan apa, kambing, sapi, babi, atau hewan lain. Tapi apakah harus begitu untuk bisa tetap menjaga diri sebagai manusia? Sepertinya belum perlu.
Mungkin hanya cukup kesadaran pribadi untuk paham bahwa tiap diri kita memiliki dua sisi tersebut: manusia dan hewan, dan dari waktu ke waktu menyadari dalam perangai maupun tindakan ada kalanya kita memang tidak cukup manusiawi sehingga harus segera mengubah kelakuan, perangai, atau tindakan. Pastinya akan lebih mudah juga akhirnya untuk merespon tindakan, perangai, atau perbuatan orang lain.
Pagi ini awalnya saya sarapan berdiri, karena tidak menemukan kursi untuk duduk, sampai akhirnya menemukan dingklik, saya pun duduk. Mencoba untuk lebih jadi manusia, menepis pikiran saya yang mensahkan makan sambil berdiri. Saya ingin kemanusiaan saya kendalikan diri saya. (em230711)
Tiap manusia itu ada 3:
1. yang dia pikir dia tahu
2. yang dia ingin orang tahu
3. yang dia sungguh tahu